Image of Tantangan Desainer Muda Yang Memasuki Dunia Branding

Tantangan Desainer Muda Yang Memasuki Dunia Branding

Banyak orang yang salah kaprah dengan pekerjaan sebagai seorang desainer, termasuk para desainer itu sendiri. Siapa di antara kalian yang baru saja lulus dari sekolah desain? Pasti sudah tidak sabar untuk mulai bekerja dan berkarya sebagus dan sekeren mungkin. Tapi apakah benar menjadi seorang desainer adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan?

“Tidak perlu belajar matematika, kerjanya hanya di depan komputer, yang penting desainnya bagus klien pasti suka!” Kalau ini adalah hal yang ada dalam mindset kalian maka kalian akan terkejut saat benar-benar terjun ke dalam dunia branding Indonesia nanti. Banyak hal yang sekolah dan kampusmu tidak dapat ajarkan dan hanya bisa kalian dapatkan di dunia kerja sesungguhnya. Mungkin kalian akan kecewa dan mulai menyesali pekerjaan kalian sebagai desainer nantinya. Karena ternyata menjadi desainer tidak hanya sekedar menghindari pelajaran matematika dan duduk di depan komputer saja. Yuk simak beberapa fakta yang bisa menjadi pelajaran untuk kalian para fresh graduates terutama.

Design isn’t about fun, but function.

Salah satu hal yang tidak kalian pelajari di dunia sekolah atau perkuliahan desain adalah desain itu harus sesuai fungsinya, bukan hanya bagus semata. Saat mengerjakan tugas yang diberikan dosen, mindset kalian tentunya untuk membuat desain sebagus mungkin yang akan membuat dosen terkesan. Tetapi ketika lulus, target desain kalian bukan hanya dosen, melainkan masyarakat yang lebih luas yang tentunya memiliki pola pikir dan selera yang berbeda-beda. Di sini lah kita belajar bahwa desain bukanlah sesuatu yang fun tetapi sesuatu yang serius yang harus dipikirkan dengan matang.

Tidak semua target audiens merupakan orang yang memiliki selera desain yang bagus. Akan ada saat dimana kalian akan terkejut apabila kalian mendapatkan klien yang ingin mendesain sebuah kemasan untuk produk kelas menengah kebawah contohnya. Mereka mungkin tidak akan suka dengan desain kalian yang minimalis, mereka mungkin tidak akan suka dengan desain kalian yang memiliki banyak white space.

Target menengah kebawah justru akan suka dengan desain yang terkesan norak dan ramai karena itu menarik di mata mereka. Di sinilah tantangan kalian sebagai seorang desainer untuk melawan semua ego kalian terutama mengenai standar desain bagus itu desain yang seperti apa. Karena desain yang bagus apabila tidak dapat menarik bagi para target audiens, sama saja dengan omong kosong bukan?

Jadi, jangan sampai kalian merasa sebal sendiri dengan desain yang terlihat norak, bisa saja desain itulah yang justru menjual karena memang itulah desain yang sesuai dengan selera market kalian.

Jangan juga membuat desain yang hanya sekedar bagus tapi tidak fungsional, kalau memang kalian diminta mendesain brosur untuk mempromosikan sebuah produk, hal pertama yang harus diperhatikan adalah kontennya, apakah sudah menyampaikan informasi produk dengan baik atau tidak. Brosur tersebut haruslah sesuai fungsi, untuk membuat konsumen tertarik pada suatu produk, bukan hanya untuk sebagai dekorasi semata.

Sebagai desainer, kita harus menanamkan sendiri mindset bahwa desain tidak hanya harus sekedar bagus, melainkan harus sesuai fungsi dan targetnya.

Your Client Vs You

Saat berkuliah dulu, klien kalian adalah dosen kalian sendiri atau guru kalian sendiri, mereka yang mungkin memiliki selera yang hampir sama dengan kalian para desainer muda. Tetapi, saat kalian mulai bekerja di dunia desain dan branding Indonesia, kalian akan bertemu berbagai macam klien dari latar belakang yang berbeda-beda. Banyak diantara mereka yang mungkin tidak memiliki selera dalam desain sama sekali.

Di sinilah tantangan terberat sebagai seorang desainer, kalian akan sadar bahwa kalian mendesain untuk klien dan bukan untuk diri sendiri. Kalian mungkin akan merasa desain kalian sudah bagus dan kekinian, tapi klien belum tentu akan suka dengan desain tersebut dan mulai memberikan berbagai macam jurus revisi terbaik mereka hingga terciptalah desain yang menurut mereka luar biasa. Klien bisa benar dan bisa juga salah. Sebagai desainer, jangan sampai kalian hati-hati dengan sikap sok tahu dan tidak peduli dengan masukan klien sama sekali, tetapi juga jangan menjadi desainer yang ‘iya-iyalah’ hanya karena kalian ingin desain kalian cepat diterima. Semua kembali lagi pada karakter brand dan tujuan desain.

Tugas terberat kalian dimulai di sini, bagaimana menjembatani keinginan klien tanpa melupakan standar desain dan tujuan desain yang ada.

Time Management

Kalian merasa deadline di perkuliahan kalian sangat ketat? Saat kalian mulai bekerja, deadline kalian jauh lebih ketat lagi. Tentunya juga tidak akan lepas dari revisi yang mungkin bisa puluhan jumlahnya. Klien akan menuntut desainer bekerja dengan cepat, terkadang juga akan menuntut revisi yang mungkin di luar nalar kalian. Klien kalian bisa saja baru memberi revisi pagi tadi dan harus selesai siangnya. Sedih, tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi seorang desainer saat mulai memasuki dunia kerja.

Masih merasa pekerjaan sebagai desainer hanya keren-kerenan saja? Ternyata menjadi desainer tidaklah mudah. Selain skill, desainer juga dituntut untuk memiliki mental dan kelapangan dada yang cukup luas, lho.

Lalu, bagaimana solusinya?

Kalian harus paham bahwa saat mulai bekerja sebagai desainer sesungguhnya, kalian harus bisa membagi waktu dengan baik agar tuntutan deadline klien kalian bisa terpenuhi. Kalian harus dapat membagi prioritas waktu dengan baik, menentukan mana pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih dahulu dan mana yang menjadi prioritas.

Your Behance is not Your Only Source of References

Siapa sih desainer yang tidak memiliki Behance? Semua desainer muda pasti memiliki akun di situs yang satu ini setidaknya untuk melirik berbagai macam inspirasi mendunia mengenai desain. Apakah itu saja sudah cukup? Tentu saja tidak. Karena nyatanya banyak target audiens yang notabene masyarakat Indonesia belum melek desain. Desain dan branding milik para desainer kenamaan luar negri belum tentu sesuai apabila diaplikasikan dalam desain dan dunia branding Indonesia. Jadi, jangan hanya melihat inspirasi yang ada di internet. Banyaklah melihat contoh desain nyata terdekat kalian, di minimarket misalnya? Lihatlah bagaimana desain poster yang biasa ditempel di pintu kaca Indomaret, bagaimana desain brosur yang dipajang di Super Indo, atau bahkan desain banner yang ada dijalan-jalan besar sekitar kalian. Carilah inspirasi dari yang terdekat, karena target kalian adalah orang-orang yang berada di sekitar kalian.

Tidak mudah ya menjadi desainer? Tapi bukan berarti kalian harus patah arang. Justru kalian harus termotivasi untuk benar-benar serius menekuni pekerjaan ini. Karena desainer ternyata bukan pekerjaan yang bisa dipandang sebelah mata.