Image of Inilah 8 Alasan Mengapa Brand Anda Gagal

Inilah 8 Alasan Mengapa Brand Anda Gagal

Apakah Anda masih ingat Kodak? Selama abad ke–20, Kodak adalah pionir dan market leader untuk fotografi film. Di Amerika Serikat bahkan masih sering dipakai istilah “Kodak moment” untuk mendeskripsikan momen yang patut diabadikan.

Sayangnya, menjelang abad ke–21 brand Kodak mulai mengalami kemunduran. Keengganan perusahaan untuk masuk ke pasar digital memberikan kesempatan bagi kompetitor untuk mengambil alih leadership. Puncaknya, pada tahun 2012 Kodak harus mengajukan perlindungan dari kebangkrutan.

Berbekal case study dari Kodak di atas, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil: bahkan brand yang bagus pun bisa gagal jika tidak hati-hati.

Di luar sana masih banyak brand lain yang awalnya kuat, namun mengalami kemunduran karena salah langkah. Nah, jangan sampai brand kita mengalami nasib yang serupa. Kali ini, saya ingin sharing 8 kesalahan yang bisa mengakibatkan brand Anda gagal:

Kesalahan no. 1: Berusaha meniru brand lain

Belajar dari brand yang sukses memang baik, tapi berusaha menduplikat mereka itu lain cerita. Jangan lupa bahwa konsep utama branding adalah menempatkan diri Anda sebagai pemain yang unik dan berbeda dari kompetitor. Jika Anda malah berusaha menjadi seperti perusahaan lain, apa gunanya branding?

Kesalahan no. 2: Melupakan brand promise

Brand Anda merupakan janji Anda kepada customer. Melupakan janji itu sama saja dengan meniadakan brand Anda.

Contoh perusahaan yang pernah melakukan kesalahan ini adalah Coca-Cola. Pada tahun 1985, Coca-Cola mengganti formula minuman bersodanya agar tidak kalah bersaing dari Pepsi. Minuman baru ini dijuluki New Coke, dan menurut hasil blind test rasanya lebih enak dari Coke lama maupun Pepsi.

Sayangnya, Coca-Cola lupa bahwa brand mereka lebih dari sekedar minuman bersoda dengan rasa yang enak. Bagi customer, Coca-Cola merupakan lifestyle. Ketika rasanya berubah, customer merasa lifestyle mereka ikut diubah paksa. Singkat cerita, New Coke pun ditarik dari pasaran 3 bulan setelah dirilis.

Kesalahan no. 3: Kurang gencar melakukan branding campaign

Percuma punya produk dan brand yang baik jika tidak ada orang yang tahu. Word of mouth memang membantu, tapi brand Anda akan lebih cepat dikenal bila Anda melakukan campaign secara teratur.

Kesalahan no. 4: Terlalu gencar melakukan branding campaign

Too much of a good thing won’t be good anymore. Branding pun demikian. Jika Anda terlalu gencar melakukan campaign, customer bisa bosan melihat brand Anda. Ada baiknya memberikan jeda secara periodik agar brand Anda terlihat lebih fresh.

Kesalahan no. 5: Layanan mengecewakan

Branding memang bisa mendatangkan customer, tapi produk dan layanan Anda yang akan menentukan apakah customer akan kembali lagi. Jika layanan Anda dirasa mengecewakan, brand Anda pun ikut merasakan efeknya.

Kesalahan no. 6: Malas berinovasi

Tidak ada yang pasti di dunia ini. Bisa jadi Anda adalah market leader hari ini, tapi tidak ada jaminan kalau besok, 5 tahun, 10 tahun, bahkan 50 tahun dari sekarang Anda bakal tetap berkuasa.

Lihat saja Blackberry. Lima tahun yang lalu, Blackberry mendominasi pasar smartphone. Sayang, mereka tidak melakukan inovasi berkelanjutan. Akibatnya, market share mereka turun drastis setelah dibombardir oleh kompetitor baru dengan produk yang lebih canggih.

Kesalahan no. 7: Tidak mampu beradaptasi

Poin terakhir ini pas menggambarkan Kodak. Menjelang berkembangnya fotografi digital, Kodak justru memaksa untuk bertahan dengan fotografi film. Akibatnya, kini Kodak sudah tidak punya gaung lagi.

Kesalahan no. 8: Tidak konsisten

Pernah dengar minuman berenergi Hydro Coco? Produk ini adalah keluaran dari Kalbe Farma yang notabene merupakan perusahaan farmasi terkenal. Walau demikian, Hydro Coco kurang laris di pasaran. Hal ini disebabkan brand Kalbe Farma sudah terlanjur lekat dengan obat-obatan.

Ekspansi memang selalu tampak menjanjikan. Tapi ketika Anda mengeluarkan produk atau layanan yang tidak konsisten dengan brand Anda, customer akan bingung. Lebih baik Anda jadi raja di satu lini saja daripada follower di berbagai tempat.

Jika memang Anda berniat ekspansi produk, saya sarankan untuk mengembangkan brand terpisah, seperti yang dilakukan oleh pengusaha salon Johnny Andrean. Lewat payung J.CO, Johnny Andrean berhasil membesarkan bisnis makanannya.

FULLSTOPPERS, pernahkah Anda melakukan kesalahan branding di atas? Apa akibatnya untuk brand Anda? Yuk, bagi pengalaman Anda di halaman Facebook kami!