Image of Besarkan Brand Seperti Anak

Besarkan Brand Seperti Anak

Para era serba digital, banyak orang yang berlomba-lomba membuat perusahaan start-up atau brand baru. Mereka memasarkan produk dengan kreatif. Namun, tidak banyak yang bisa bertahan lama. Bagi Felicia Arista Sukuwandono, founder creative agency dan  branding consultant Fullstop Indonesia, kunci membesarkan brand hanya satu: komitmen. Itulah yang sering diabaikan para pemilik brand. Berikut obrolan dengan Felicia soal dunia yang digelutinya.

Apa tantangan membesarkan sebuah brand pada era digital?

Di industri kreatif sekarang, memang digital yang paling dekat dengan kita. Nah, gimana caranya industri kreatif bisa meng-create konten yang remarkable. Gimana caranya, saat pertama lihat, orang dapat impression yang bagus. Itu nggak gampang. Terutama buat start-up baru. Artinya, meski beberapa brand menjual produk yang sama, karakternya bisa beda. Misalnya, beberapa brand yang menjual tas cewek. Ada tas A yang karakter produknya cocok untuk cewek tomboi, brand B untuk cewek feminin, dan brand C untuk working woman. Konten itu disebut remarkable ketika satu dua detik pertama orang melihat sudah langsung paham karakter brand tersebut.

Bagaimana peran sebuah agensi?

Agensi bertemu klien, yakni pemilik brand. Lalu, kita samakan visi. Apa sih yang diinginkan brand ini? Dalam tahap ini, yang terpenting adalah proses kita harus respek satu sama lain. Agensi dan klien itu seperti orang married. Harus saling adaptasi, tentukan goal sama-sama, lalu halan dengan tugas masing-masing. Harus tahu mana yang menjadi bagian agensi dan mana yang bagian klien. Lalu eksekusi, setelah itu evaluasi.

Bisa dibilang, dengan agensi, brand memiliki dua orang tua. Bagaimana kalau orang tua ternyata tidak saling cocok?

Branding activity ini dunia abu-abu. Ada banyak faktor yang memengaruhi kerja sama tidak berjalan. Salah satunya adalah respek itu tadi. Kalau dua belah ppihak tidak bisa menghargainya, ya kerja sama nggak bisa dilanjutkan. Kerja sama yang tidak baik juga dapat berpengaruh ke brand.

Ketidakcocokan itu bisa terlihat setelah evaluasi. Yang penting dari evaluasi adalah keinginan memperbaiki. Aku selalu bilang ke timku bahwa salah itu tidak apa-apa. Tapi, kita harus tahu salahnya di mana dan improve dari kesalahan.

Pada Maret lalu, Fullstop berulang tahun yang keenam. Apa tantangan selama ini?

Sebagai agensi, enam tahun bukan waktu yang singkat. Apalagi, di Surabaya agensi seperti ini masih jarang. Setiap tahun punya tantangan sendiri. Pada 1-2 tahun pertama itu merintis. Lalu, tahun ke-3 dan 4 mulai mengembangkan. Kemudian, pada tahun ke-5 dan 6, orang sudah mulai tahu nama kita. Tinggal bagaimana kita jaga kualitas.

Semua proyek, besar atau kecil, itu menantang. Yang agensi lihat adalah progres, bukan hasil akhir. Kalau klien dan agensi itu berperan sebagai orang tua, brand ini adalah anaknya. Perjuangan membesarkan brand sama seperti membesarkan anak. Nggak bisa serba instan. Misalnya, hari ini pasang iklan, besok bisa langsung terkenal. Itulah tantangan kita untuk memberikan pengertian kepada mereka. Setiap brand biasanya membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk menjadi besar.

Agensi sebagai salah satu orang tua juga harus menjaga kualitas. Memiliki tim yang solid adalah kuncinya. Saya selalu menanamkan kepada tim internal Fullstop untuk memiliki rasa sayang yang besar dengan brand itu. Ya seperti anak sendiri, harus betul-betul dijaga. Kalau ditelantarkan, nggak bakal bisa berkembang.

Bagi Felicia, apa kesulitannya?

Di-underestimate karena saya cewek? Sering! Pemahaman orang lain tentang peran agensi ini masih pendek, tapi sekarang jauh lebih baik. Tugas perempuan itu berat lho. Selain di keluarga, perempuan harus tangguh dalam bekerja. Tapi, yang terpenting adlah balance antara bekerja dan bahagia. (adn/c14/na)